Sunday, April 29, 2012

Jejak Kaki

Pernahkah Anda membaca puisi Footprints in the Sand? Puisi ini sangat populer tahun 90-an di kalangan gereja. Banyak posternya dijual di toko buku rohani. Cerita yang mengharukan mengenai jejak kaki di pantai berpasir yang menggambarkan hubungan manusia dengan Tuhan. Ini lengkapnya:


One night a man had a dream. He dreamed he was walking along the beach with the LORD. Across the sky flashed scenes from his life. For each scene he noticed two sets of footprints in the sand: one belonging to him, and the other to the LORD. 


When the last scene of his life flashed before him, he looked back at the footprints in the sand. He noticed that many times along the path of his life there was only one set of footprints. He also noticed that it happened at the very lowest and saddest times in his life. 


This really bothered him and he questioned the LORD about it: "LORD, you said that once I decided to follow you, you'd walk with me all the way. But I have noticed that during the most troublesome times in my life, there is only one set of footprints. I don't understand why when I needed you most you would leave me." 


The LORD replied: "My son, my precious child, I love you and I would never leave you. During your times of trial and suffering, when you see only one set of footprints, it was then that I carried you."


Dulu cerita ini sangat menginspirasi dan menguatkan saya. Saat kesulitan datang ada penghiburan karena saya tidak sendirian. Tuhan menggendong saya. Jejak kaki hanya satu pasang. Bukan saya yang menjejak di pasir. Istilah rohaninya Tuhan yang bekerja dan saya bersandar di punggungnya. Sangat menghibur bukan?


Namun, kini setelah mencemplung ke dalam realita. Nyatalah bagi saya bahwa puisi diatas adalah kepingan kecil dalam figura mozaik pemikiran dalam gereja. Pemikiran yang membius umat. Yang membuat umat bisa melupakan sejenak permasalahan dalam hidupnya. Tak ubahnya obat bius. Mungkin itu sebabnya Karl Marx menyebut agama itu opium atau candu. Umat beragama tak ubahnya seorang pemadat yang lelah menghadapi realita. Mereka berbondong-bondong mencari Tuhan yang memberi mereka ketenangan. Kalau pemadat menghisap candu, umat beragama beribadah lebih sungguh-sungguh. Saya dulu begitu. 


Lalu, apakah kemudian permasalahan menjadi selesai? Sebagian iya. Mungkin karena Tuhan memang baik dan penuh kasih sayang. Tetapi ada masalah yang tak akan pernah selesai tanpa kita terjun langsung untuk mengatasinya. Masalah yang hanya selesai kalau kita berpeluh, bersusah payah, dan berdarah-darah disana. Itulah realita yang banyak dihindari oleh umat sehingga lari pada simbol-simbol agama. Realita yang baru saya sadari beberapa tahun belakangan. 


Beribadah sungguh-sungguh sampai habis waktu? Silakan. Berdoa jungkir balik agar Tuhan bekerja? Silakan. Saya percaya tetap ada dampak dari pencarian "wajah Tuhan" model seperti itu. Tetapi, jangan hanya mengandalkan itu. Dampaknya akan kecil jika kita menjadikan ibadah sebagai pelarian dari kenyataan hidup. Hidup tidak akan berubah kalau kita terus menerus melarikan diri dari kenyataan. 


Berdoa minta Tuhan menolong. Minta Tuhan bekerja. Minta mujizat terjadi. Itu semua istilah-istilah yang dipakai untuk melarikan diri. Artinya bukan kita yang mengerjakannya, tapi Tuhan. Persis seperti apa yang tertulis dalam puisi diatas, bukan? Satu pasang jejak. Bukan jejak kita. 


Puisi itu tidak lagi menguatkan saya seperti dulu. Saya ingin merubah ending-nya. Di saat terendah dalam hidup saya hanya ada satu pasang jejak. Dan ketika saya bertanya kepada Tuhan mengapa. Dia menjawab,"Anak-Ku, Aku tidak pernah meninggalkanmu. Satu pasang jejak yang kaulihat memang jejakmu. Aku menjauh saat itu karena Aku tahu bahwa engkau bisa mengatasinya. Justru di saat-saat seperti itu engkau membuat-Ku bangga dengan tetap tegak dan menapaki hidupmu dengan berani."


http://en.wikipedia.org/wiki/Footprints_(poem)

Sunday, March 25, 2012

Bertemu Ayah


Hari ini saya bertemu dengan ayah saya lagi, setelah entah berapa lama, di acara pernikahan keluarga besarnya. Biasa saja sebenarnya bertemu dengannya. Tapi kali ini saya mencoba untuk lebih aktif menanyakan kabarnya dan basa-basi biasalah. Iseng-iseng saya menanyakan nomor ponselnya. Dia juga balik bertanya. Ternyata dia masih menyimpan nomor saya. Tapi nomor lama. Nomor yang saya miliki pertama saya memiliki ponsel. Nomor itu sudah belasan tahun mati. 


Begitulah hubungan kami. Sejak umur lima tahun saya dan kakak ditinggal pergi olehnya. Sejak saat itu tak pernah lagi dia mengabari keadaannya kepada kami sampai kemunculannya yang tiba-tiba dua tahun kemudian. Kami sempat diajaknya jalan-jalan. Belakangan saya tahu dia ingin kembali ke ibu saya. Dan ditolak. 

Dia menghilang lagi. Lalu muncul kembali sekian tahun kemudian yang saya lupa tahunnya. Tahun 90-an kalau tidak salah. Kali itu saya tidak tahu apa tujuannya datang. Mungkin sama dengan sebelumnya. Dan dia menghilang lagi. Setelah itu dia muncul untuk mendampingi di pernikahan kakak saya dan pernikahan saya.  

Singkatnya hubungan kami asing dan canggung. Wajar saja. Selama hidup kami bergaul hanya  lima tahun. Dan saya hampir tak mengenalnya. Ketika kita bayi sampai umur lima tahun tak banyak yang mampu kita ingat, bukan? 

Tetapi, kisah itu sudah lama saya terima sebagai bagian dari masa lalu. Meski boleh dibilang dia sudah mengabaikan kami, anak-anaknya, saya merasa percuma mengungkit-ungkit lagi peristiwa di masa lalu. Peristiwa yang tak mampu saya mengerti waktu itu dan sekarang juga. Peristiwa yang tidak bisa di-rewind lalu diubah. Perceraian sudah terjadi dan dia memilih mengabaikan kami. Itu saja. Sampai beberapa bulan lalu sesuatu mengusik saya.

Dimulai dari seseorang mengatakan sesuatu kepada saya. Ia mengutipnya dari falsafah Konfusius mengenai orang tua. Perkataannya menyadarkan saya. Dia bilang bahwa orang tua sejelek, sejahat, sepercuma apapun mereka tetaplah orang tua yang wajib di hormati. Tanpa mereka kita tak ada. Mereka adalah utusan Tuhan yang menghadirkan kita ke dunia. 

Nah, sebelum itu saya berpendapat orang tua wajib kita hormati jika mereka sudah lakukan tugasnya. Bagi yang belum saya pikir buat apa dihormati? Kemudian saya sadar saya salah. Kesadaran itu muncul saat saya mengamati anak saya. 

Saya sangat mencintai kedua anak saya. Tapi ada saat-saat dimana saya tidak mampu menunjukkan kecintaan saya. Dan itu sering terjadi. Lalu saya berpikir bagaimana jika ayah saya ternyata sangat mencintai saya? Bagaimana jika karena kesalahan yang ia perbuat di masa lalu membuatnya tak mampu dan tak punya keberanian untuk mengungkapkan rasa cintanya? Bagaimana jika dia ternyata sangat menyesal?

Saat itulah saya memutuskan untuk berubah dan segera merencanakan untuk mengunjunginya tahun ini. Saya tidak menduga akan bertemu dengannya secepat ini. Mungkin ini jalan yang dibukakan Tuhan. Keputusan sudah diambil dan saya akan jalani itu. Saya harus berubah dengan mulai menganggap dan memperlakukannya sebagai ayah.

Tahun ini usianya 70 tahun. Tak banyak waktu lagi yang bisa kami tebus. Saya akan coba perbaiki hubungan kami. Dimulai hari ini ketika saya memberinya nomor ponsel saya yang sekarang dan bertanya akan kemana dia selama dua hari ini di Bandung. Pertanyaan yang belum pernah saya tanyakan kepadanya jika dia berkunjung.

Monday, March 19, 2012

Membaca

Kemarin saya membeli satu buku lagi untuk ditambahkan pada setumpuk buku yang belum dibaca. Godaan menonton televisi (baca: pertandingan sepakbola) masih lebih kuat dibanding godaan membaca. Akhirnya hobi membaca disalurkan dengan membaca status Facebook, membaca koran online, linimasa Twitter, dan pembacaan online lainnya yang kebanyakan hanya pendek-pendek saja.

Jika saya saja yang gemar membaca dari kecil tergoda oleh televisi apalagi mereka yang malas membaca. Pernah saya baca bahwa masyarakat Indonesia melompati satu fase dalam perkembangan peradabannya yaitu fase membaca. Kebanyakan langsung melompat ke fase menonton. Sehingga kemudian fase menulis tidak pernah bisa dicapai oleh sebagian besar masyarakat Indonesia.


Dahulu saya dan generasi sebelum saya belum terpapar oleh gelombang pasang industri media visual seperti ini sehingga waktu itu kami bisa asyik menghibur diri dengan membaca. Sekarang kelihatannya lebih sedikit orang yang bisa menemukan keterhiburan dari membaca. Mereka lebih menyukai televisi daripada buku. Padahal menurut survei dari University of Maryland "People who spend the most time watching television are least happy in the long run"
http://www.nytimes.com/2008/11/20/health/research/20happy.html?_r=1


Televisi memang lebih menarik daripada buku karena menonton televisi tidak perlu mengimajinasikan apa yang ditonton. Lain halnya dengan buku. Saat membaca kita perlu mengimajinasikan apa yang kita baca agar kita bisa menikmatinya. 


Proses imajinasi inilah yang dilompati dalam proses perkembangan masyarakat Indonesia. Alhasil, banyak orang malas berpikir. Terima saja apa yang ditonton tanpa mau memeriksa lagi apakah yang ditonton itu benar, baik, berguna atau tidak. 


Cobalah tengok acara televisi yang ada di prime time (pk 18.00 - 23.00) tidak banyak yang membutuhkan imajinasi, kebanyakan acara pemancing tawa dan tangis bukan? Salah ya tidak. Namun, masyarakat yang malas berpikir akan membuat segala sesuatu dicari jalan pintasnya. Korupsi mungkin salah satunya. Pengerahan massa untuk berbuat anarkis salah lainnya. 


Wah, malah belok kemana-mana nih. Sederhana saja perhatikan anak-anak kecil. Banyak mana yang hobi main PS/DS/XBOX atau apalah namanya dibanding yang hobi membaca? Persentasenya menurut saya agak mengkhawatirkan. Di gang-gang sempit penyewaan PS lebih laku dibanding Taman Bacaan bukan? Apakah mereka akan cenderung malas berpikir dan cenderung mencari jalan pintas? Harus dibuktikan dengan waktu.


Nah, kemarin sebetulnya saya beli dua buku, satu untuk saya dan satu untuk anak saya (Seri Petualangan karya Enid Blyton). Saat menulis blog ini, dia sudah baca 1 bab saya belum lagi membacanya. Sudah saatnya berhenti di sini. Mudah-mudahan masih ada yang tergoda untuk membaca tulisan ini. 
http://www.newsdesk.umd.edu/sociss/release.cfm?ArticleID=1789