Saturday, November 28, 2009

peduli


tadi aku menghadiri acara pernikahan. dan penuh. antrian panjang dimana-mana. dan ketidakpedulian juga dimana-mana.

apa susahnya berdiri dalam antrian? ternyata bagi banyak orang berdiri dalam antrian berarti kerugian. sebuah antrian diisi dua jalur yang bertemu di lokasi piring. yang satu panjang yang satu pendek. seharusnya orang mengerti untuk tidak mengisi antrian yang pendek. eh, tetap saja ada orang yang bodoh dan tidak peduli. ada orang tua, wanita cantik, pria berbadan besar bertampang sangar. mereka merasa punya hak berdiri di tempat yang dia pikir paling strategis, antrian pendek. lalu apa yang mereka dapatkan? waktu? perut lebih cepat diisi? bagaimana dengan gerutuan puluhan orang yang dia sela? ah, mana mereka peduli.

satu lagi, anakku berdiri sebentar dari duduknya. baru dia mau duduk lagi. seorang ibu tanpa ba bi bu langsung menempati kursi itu. sekali lagi bagi sang ibu mungkin kursi itu sangat strategis. dan memang kita tidak bawa kursi sendiri ke pesta itu toh? ah, cobalah anda pikir perasaannya. alhasil anakku makan sambil berdiri sesudahnya.

hari ini aku tidak sedang ingin bertengkar. jadi selamat menikmati kursinya, bu. semoga anda bahagia walaupun duduk diatas kesusahan orang lain.

ada untungnya juga orang bahagia. sedikit masalah, sedikit keributan. yah, kami masih bahagia karena semua hidangan diatas rata-rata cita rasanya. dan kami masih tetap bahagia meski disamping kami berdiri seorang bapak sedang asyik mengepulkan asap rokoknya tanpa peduli ada dua anak kecil di dekatnya.

Tuesday, November 24, 2009

entahlah


beberapa hari yang lalu kusimak di televisi cerita mengenai jyoti amge, gadis terkecil di dunia (tinggi 58 cm, berat 5,25 kg). ia tinggal di nagpur, india. jyoti lahir dengan berat 1,5 kg dan dinyatakan tidak akan bertahan satu hari pun. tapi kenyataannya usianya 16 tahun desember ini dan pertumbuhan mentalnya sama seperti anak normal seumurnya. ia bercita-cita menjadi artis bollywood.

jyoti mengalami patah tulang di kedua kakinya. meski ia masih bisa berjalan, dokter menyatakan kondisinya akan semakin memburuk bila dibiarkan. namun, kedua orang tuanya menghentikan rencana operasi, yang diharapkan bisa memulihkan kondisinya, karena mereka tidak tega melihat jyoti kesakitan ketika diambil darahnya. lalu mereka membawa jyoti ke seorang guru hindu untuk mendoakannya dan mereka meyakini jyoti suatu hari akan sembuh.

apakah jyoti akan sembuh? entahlah.

dua hari yang lalu keponakanku rayne didoakan bersama anak dan bayi yang lain dalam ibadah kebaktian minggu. karena gereja kami tidak mengenal pembaptisan anak. ibadah ini disebut ibadah penyerahan anak. keponakanku menderita kelainan jantung. dan dia sudah dijadwalkan untuk menjalani operasi. usianya 1 tahun april tahun ini. bersama jemaat yang lain aku berdoa untuk keponakanku.

aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya di tahun-tahun sesudah ini. kedua orang tuanya belum memutuskan kapan dan oleh siapa operasi akan dilakukan.

apakah rayne akan sembuh? entahlah.

kedua kisah tadi membuatku menyimpulkan. hidup anak ditangan orang tuanya sebelum dia dewasa. tuhan memberikan mandat dan wewenang kepada orang tua untuk menentukan hidup sang anak. orang tua berwenang menamai sang anak, menghidupi, bahkan mengajarkan bagaimana seharusnya sang anak menyembah tuhannya.

apakah aku sudah lakukan yang terbaik bagi anak-anakku? entahlah. semoga begitu.

Tuesday, November 17, 2009

tiga detik di rel kereta


tadi pagi di persimpangan rel kereta dan jalan merdeka seorang pria, entah gelandangan entah orang gila, muntah sambil terbungkuk-bungkuk. dia kelihatan menderita sekali. adegannya cuma tiga detik. mendadak hatiku sakit sekali. entah kenapa. sambil berkendara aku berpikir.

sekarang ini kita terburu-buru dan diburu-buru di jalan. padahal mungkin setelah sampai di tujuan pun santai-santai saja. adegan yang barusan kuceritakan mungkin disaksikan puluhan orang di kendaraan maupun yang berjalan melewatinya. tetapi, berapa orang yang berhenti untuk meringankan sakitnya pria tadi?

mungkin itulah sebabnya hatiku sakit.

sepanjang pagi tadi pikiran dan hatiku jalan terus. orang-orang di kota besar kehilangan rasa kebersamaannya. jalanan seperti rimba. yang mati biarlah mati. yang kuatlah meraja. semakin mewah mobil seakan semakin berhak menguasai jalanan. mepet sedikit buka kaca mobil pasang tampang sangar. teriak-teriak. berapa kali aku lihat motor dikendarai dengan canggung oleh ibu-ibu dipepet seenaknya.

siang harinya di persimpangan rel kereta yang lain seorang bapak tua penuh uban mendorong becaknya. jalanan menanjak dan becaknya mengangkut besi cor cukup banyak. dia sudah dorong becaknya sekuat tenaga namun belum mampu melewati tanjakan lintasan kereta. aku masih dibelakangnya. dan tiba-tiba sesuatu menggugahku lakukan sesuatu. kudekatkan motorku ke samping becaknya. sambil motor masih melaju kupegang jendela becaknya dan dengan sebelah tangan kudorong becaknya.

becaknya melewati tanjakan. dan aku berlalu sambil sayup kudengar ucapan terima kasihnya. mendadak hatiku haru. dan mataku hangat. adegan tadi juga cuma tiga detik.

Thursday, November 12, 2009

lampu merah


kemarin siang aku berhenti di setopan. tak lama seorang polisi bermotor bebek pun berhenti di sebelahku. lampu masih merah. mendadak ketika lalu lintas agak lengang sang polisi menerobos lampu merah dengan santainya. kami yang naik motor saling berpandangan. tanpa dikomando sebagian besar segera mengikuti oknum polisi itu.

aku masih bertahan menunggu lampu hijau. eh, selagi masih agak kesal di jalur yang lain truk tentara dengan enam roda juga sama. menerobos lampu merah. lebih parahnya lagi lalu lintas masih ramai. padahal truk tentara itu kosong. aku yakin tidak ada kejadian darurat yang membuatnya harus menerobos. supirnya pun senyum-senyum.

dua kejadian dalam satu saat, menunggu lampu merah, membuatku semakin yakin. mentalitas bangsa ini sedang terpuruk. di media sedang ribut-ribut saling tuding mengenai siapa yang paling bersih. lihat saja realita sehari-hari. aparat negara tidak punya rasa malu menentang aturan yang harus dia jaga.

setiap pagi aku mengantar anakku sekolah. dan ada satu lampu merah belok kanan yang selalu kutaati sementara sebagian besar kendaraan menerobosnya. aku tidak peduli klakson mereka.
anakku selalu bertanya, kenapa kita tidak ikut mereka. aku bilang, kalau di depan ada polisi semua orang akan taat. kita tetap taat ada polisi ataupun tidak. setiap pagi aku ingin anakku belajar mempertahankan kebenaran meskipun dianggap aneh. supaya dia belajar tidak malu dan tidak takut berdiri diatas kebenaran.

Saturday, November 7, 2009

mau yang mana?

tadi pagi aku ke toko roti. pukul tujuh pagi toko sudah ramai. aku masuk bersamaan dengan seorang ibu muda berpenampilan terjaga. kulit putih rambut dicat menuntun seorang anak kecil usia tiga tahunan. sebutlah dia ibu "a". di dalam ada ibu muda lain juga berpenampilan terjaga. kulit putih rambut pendek dengan dua anaknya masih kecil-kecil sebutlah dia ibu "b".

saat aku sedang memilih roti ibu "a" bicara kepada anaknya. dia bilang, "bade nu mana?" (bahasa sunda halus yang artinya mau yang mana?). aku langsung menoleh. masih ada yang berbahasa sunda halus hari-hari ini? tak lama kemudian aku mendengar ibu "b" bicara kepada anaknya. dia bilang,"which one do you want?" (bahasa inggris tentunya dengan arti sama, mau yang mana?). aku terdiam

aku biasa saja mendengar pembicaraan ibu "b". toh sekarang banyak anak bersekolah di sekolah internasional. dengan penampilan seperti itu, wajarlah. tapi aku tak habis pikir mendengar pembicaraan ibu "a". bahkan tetanggaku yang asli sunda pun sudah jarang kudengar bicara bahasa sunda dengan anaknya, padahal anaknya sudah cukup besar. belum lagi sering kudengar omelan para ibu mengenai empat bahasa yang harus dipelajari anaknya (bahasa indonesia, inggris, mandarin, dan sunda). menyusahkan kata mereka.

sambil bolak-balik memilih roti. aku mendengar kedua ibu tadi masih bicara dalam bahasa masing-masing dengan anaknya. mereka adalah para wakil dari titik-titik ekstrim. aku jadi merenung. pertanyaan-pertanyaan datang silih berganti. dua puluh tahun lagi berapa persen orang sunda masih berbicara bahasa sunda halus? dua puluh tahun lagi berapa persen anak muda bicara bahasa indonesia dengan logat bule seperti cinta laura?

apa iya bahasa sunda lebih rendah dari bahasa inggris? apakah menggunakan bahasa inggris merupakan tanda modernitas? bagaimana nasib bahasa-bahasa daerah di indonesia yang jumlahnya ratusan? apa arti bahasa ibu sesungguhnya?

aku membawa pulang sekantung roti dan sekantung pertanyaan. mau yang mana?

kalau anda mau yang mana? bade nu mana? which one do you want? atau bahkan ni yao se ma?

Thursday, November 5, 2009

lurus, lurus terus


kemarin ada kejadian lucu. aku di bank. antrian masih panjang. selagi aku mengantri seorang bapak terlihat bicara di telepon dengan seseorang. nadanya biasa. dia berusaha menjelaskan panjang lebar kepada lawan bicaranya lokasi sebuah perusahaan. lurus, lurus terus. demikian si bapak menjelaskan. kemudian si bapak pun menutup teleponnya.

tak lama terdengar irama campur sari dari teleponnya. seluruh antrian serempak menoleh kearah si bapak. ternyata yang menelepon orang yang sama karena kembali si bapak menjelaskan lokasi perusahaan itu. dia menjelaskannya dengan cara yang sama. iya, lurus, kamu kan sudah di jalan itu, lurus terus. agaknya lawan bicara si bapak tidak juga mengerti karena semakin lama suaranya semakin keras sambil sesekali dia memaki. akhirnya telepon dia tutup. lalu dia tersenyum sambil mencoba menjelaskan sesuatu kepada satpam bank. mungkin karena dia sadar suaranya yang keras mengganggu yang lain.

belum selesai dia bicara irama campur sari kembali terdengar. seluruh antrian menoleh lagi. dan adegan tadi terulang lagi, persis. tapi kali ini si bapak sudah hampir teriak dan mukanya merah padam. akhirnya dia keluar dari bank mungkin karena dia tidak bisa mengekspresikan emosinya dengan bebas. sesaat suaranya sayup-sayup tertelan suara ramai lalu lintas di jalan yang sedang macet.

tiba-tiba kami yang di dalam bank dikagetkan teriakan yang sangat keras. suara si bapak itu lagi. dia bicara sambil berteriak sekuat tenaga. bahkan lalu lintas yang ramai pun kalah kuat. dan dia berteriak dengan wajah menghadap ke kaca gedung bank yang buram. membuat kami yang di dalam disuguhi pemandangan yang unik. wajah si bapak yang dia tempelkan ke kaca sambil mengekspresikan emosinya dengan berteriak-teriak. topiknya masih tetap sama. lurus, lurus terus goblok!

seringkali tanpa sadar kita mengabaikan apa yang terjadi di sekeliling kita ketika menggunakan handphone.

Wednesday, November 4, 2009

bulan purnama



dua hari ini aku melihat bulan purnama. bulan menguning indah benderang. entah mengapa timbul kesedihan melihatnya.

aku ingat dahulu waktu kecil, bulan adalah temanku dimalam buta. saat-saat sepi dia menemaniku. saat aku sedih aku bermimpi bisa terbang ke sana untuk berbagi. kadang-kadang aku seperti melihat wajah tersenyum di sana. bulan adalah teman saat aku kesepian.

bulan juga menjadi sahabat ketika aku berkelana di malam buta menjelajahi alam. aku ingat waktu di tepi pantai tengah malam bulan juga benderang seperti hari ini. waktu aku menembus hutan belantara cahaya bulan adalah kemewahan.

dan akupun menyadari kenapa timbul kesedihan saat memandangnya. kota terlalu penuh cahaya. kota terlalu penuh peristiwa. di kota waktu saling memburu.

bulan seperti mata tuhan. bulan tetap sama. setia. menantikan kita untuk datang menikmatinya. barang sesekali saja. supaya kita dapat menghargai dan menyelami arti kehadirannya.

agaknya malam ini aku akan duduk di luar memandanginya selepas kubuat catatan pendek ini. bagaimana dengan anda?

Monday, November 2, 2009

menggendong

kemarin pesta pernikahan adik iparku. pesta belum dimulai. kami keluarga sudah berdatangan dua jam sebelum pesta dimulai. anakku empat tahun usianya minggu lalu. berlarian sana sini padahal dia sedang batuk. sulit sekali melarang dia. tempat yang luas membuat dia merasa bebas. akhirnya aku biarkan saja dia.

pesta sudah dimulai. pengantin segera memasuki pelaminan. anakku duduk disebelahku. dia tidak selincah sebelumnya. enam tiga puluh waktu itu. aku tahu dia kelelahan setelah berlarian. segera aku menggendongnya. dan mulai mengayunkannya dipelukanku.

pengantin bersanding di pelaminan, anakku tertidur di pangkuan. dia bukan bayi lagi lima belas kilo beratnya. awalnya berat sekali aku menggendongnya. segera aku memindahkan kursi plastik putih yang kududuki ke tempat yang lebih strategis. di sudut antara tiang dan tembok. dan aku bersandar di sana sambil mendudukkan anakku di pangkuan.

pesta terus berlangsung. kakiku yang disilangkan untuk menopang anakku mulai kesemutan. kutukar kaki yang kusilangkan. jas kubuka kancingnya, dasi kulonggarkan. dia masih lelap dipangkuanku.

para undangan sudah mulai mendekati tempatku duduk karena posisiku di belakang stal makanan. aku masih santai saja duduk di sana menikmati saat itu. sebetulnya dia bisa kupindahkan ke mobil atau ke sofa di belakang. tapi aku ingin menikmati kebersamaan dengannya.

mungkin orang-orang berpikir aku bodoh duduk di kursi plastik yang keras sambil menggendong anak yang tertidur. tapi entahlah saat itu aku justru ingin merasakan dia di pangkuanku. pegal, kesemutan, berkeringat, dan lelah bercampur aduk. lebih dari semua aku ingin dia merasakan kasihku sebagai bapaknya. hembusan nafasnya, degup jantungnya, kehangatan tubuhnya. aku benar justru ingin merasakan kehadiran dia dalam hidupku di saat yang tidak nyaman seperti itu. satu jam aku menggendongnya dan aku akan mengingat saat itu sebagai saat yang penting dalam hidupku. dan aku tahu walaupun dia tertidur dia akan ingat kasih bapaknya yang menggendongnya.