
tadi pagi di persimpangan rel kereta dan jalan merdeka seorang pria, entah gelandangan entah orang gila, muntah sambil terbungkuk-bungkuk. dia kelihatan menderita sekali. adegannya cuma tiga detik. mendadak hatiku sakit sekali. entah kenapa. sambil berkendara aku berpikir.
sekarang ini kita terburu-buru dan diburu-buru di jalan. padahal mungkin setelah sampai di tujuan pun santai-santai saja. adegan yang barusan kuceritakan mungkin disaksikan puluhan orang di kendaraan maupun yang berjalan melewatinya. tetapi, berapa orang yang berhenti untuk meringankan sakitnya pria tadi?
mungkin itulah sebabnya hatiku sakit.
sepanjang pagi tadi pikiran dan hatiku jalan terus. orang-orang di kota besar kehilangan rasa kebersamaannya. jalanan seperti rimba. yang mati biarlah mati. yang kuatlah meraja. semakin mewah mobil seakan semakin berhak menguasai jalanan. mepet sedikit buka kaca mobil pasang tampang sangar. teriak-teriak. berapa kali aku lihat motor dikendarai dengan canggung oleh ibu-ibu dipepet seenaknya.
siang harinya di persimpangan rel kereta yang lain seorang bapak tua penuh uban mendorong becaknya. jalanan menanjak dan becaknya mengangkut besi cor cukup banyak. dia sudah dorong becaknya sekuat tenaga namun belum mampu melewati tanjakan lintasan kereta. aku masih dibelakangnya. dan tiba-tiba sesuatu menggugahku lakukan sesuatu. kudekatkan motorku ke samping becaknya. sambil motor masih melaju kupegang jendela becaknya dan dengan sebelah tangan kudorong becaknya.
becaknya melewati tanjakan. dan aku berlalu sambil sayup kudengar ucapan terima kasihnya. mendadak hatiku haru. dan mataku hangat. adegan tadi juga cuma tiga detik.
1 comment:
Mungkin karena terlalu larut dalam kesibukan masing-masing, orang-orang kota memang jarang sekali yang bisa tergugah untuk membantu orang-orang yang kurang beruntung seperti itu. Bahkan mungkin kejadian itupun tidak terlihat di mata mereka.
Pernah suatu waktu ketika aku masih duduk di bangku sd kelas 6, aku melihat seorang wanita sedang berjalan sendiri di trotoar yang gelap dan sepi, dan dari dalam kendaraan aku melihat wanita itu didatangi oleh dua orang pria dan terlihat olehku dua pria itu merampas tas wanita itu dan wanita itu menahan tasnya dan seperti berusaha mencari apakah ada orang di sekitarnya yang bisa menolongnya. Aku katakan adegan itu pada mamaku yang sedang mengendarai kendaraan, "mama, mama, itu ada perempuan dirampok tasnya, ma.." Sambil mobil tetap melaju aku tidak melepaskan pandanganku dari orang-orang itu. Hatiku waktu itu berharap mamaku memutar lagi kendaraan dan berhenti. Entah untuk menolong atau hanya sekedar mencari bantuan, apapun, pada waktu itu hanya ingin tahu apa yang terjadi dengan wanita itu. apa hanya sekedar tasnya yang dirampas atau lebih dari itu? Tapi , pertanyaan itu tidak terjawab sampai sekarang, dan adegan itu masih sering terlintas tiap aku lewat jalan itu. Seandainya waktu itu aku sudah lebih dewasa dan aku seorang pria aku akan turun dan menolong wanita itu.
Entah mengapa susah sekali rasanya untuk betul-betul bisa turun tangan dan menolong walaupun hati ini sudah mengatakan tolonglah dia. Apa karena didikan yang diberikan pada kita sejak kecil untuk tidak turut campur pada masalah yang malah akan menyusahkan kita?
Terima kasih telah berbagi kisah ini, mengingatkan kita untuk lebih berani membantu orang.
Post a Comment