
beberapa hari yang lalu kusimak di televisi cerita mengenai jyoti amge, gadis terkecil di dunia (tinggi 58 cm, berat 5,25 kg). ia tinggal di nagpur, india. jyoti lahir dengan berat 1,5 kg dan dinyatakan tidak akan bertahan satu hari pun. tapi kenyataannya usianya 16 tahun desember ini dan pertumbuhan mentalnya sama seperti anak normal seumurnya. ia bercita-cita menjadi artis bollywood.
jyoti mengalami patah tulang di kedua kakinya. meski ia masih bisa berjalan, dokter menyatakan kondisinya akan semakin memburuk bila dibiarkan. namun, kedua orang tuanya menghentikan rencana operasi, yang diharapkan bisa memulihkan kondisinya, karena mereka tidak tega melihat jyoti kesakitan ketika diambil darahnya. lalu mereka membawa jyoti ke seorang guru hindu untuk mendoakannya dan mereka meyakini jyoti suatu hari akan sembuh.
apakah jyoti akan sembuh? entahlah.
dua hari yang lalu keponakanku rayne didoakan bersama anak dan bayi yang lain dalam ibadah kebaktian minggu. karena gereja kami tidak mengenal pembaptisan anak. ibadah ini disebut ibadah penyerahan anak. keponakanku menderita kelainan jantung. dan dia sudah dijadwalkan untuk menjalani operasi. usianya 1 tahun april tahun ini. bersama jemaat yang lain aku berdoa untuk keponakanku.
aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya di tahun-tahun sesudah ini. kedua orang tuanya belum memutuskan kapan dan oleh siapa operasi akan dilakukan.
apakah rayne akan sembuh? entahlah.
kedua kisah tadi membuatku menyimpulkan. hidup anak ditangan orang tuanya sebelum dia dewasa. tuhan memberikan mandat dan wewenang kepada orang tua untuk menentukan hidup sang anak. orang tua berwenang menamai sang anak, menghidupi, bahkan mengajarkan bagaimana seharusnya sang anak menyembah tuhannya.
apakah aku sudah lakukan yang terbaik bagi anak-anakku? entahlah. semoga begitu.
No comments:
Post a Comment