Monday, March 19, 2012

Membaca

Kemarin saya membeli satu buku lagi untuk ditambahkan pada setumpuk buku yang belum dibaca. Godaan menonton televisi (baca: pertandingan sepakbola) masih lebih kuat dibanding godaan membaca. Akhirnya hobi membaca disalurkan dengan membaca status Facebook, membaca koran online, linimasa Twitter, dan pembacaan online lainnya yang kebanyakan hanya pendek-pendek saja.

Jika saya saja yang gemar membaca dari kecil tergoda oleh televisi apalagi mereka yang malas membaca. Pernah saya baca bahwa masyarakat Indonesia melompati satu fase dalam perkembangan peradabannya yaitu fase membaca. Kebanyakan langsung melompat ke fase menonton. Sehingga kemudian fase menulis tidak pernah bisa dicapai oleh sebagian besar masyarakat Indonesia.


Dahulu saya dan generasi sebelum saya belum terpapar oleh gelombang pasang industri media visual seperti ini sehingga waktu itu kami bisa asyik menghibur diri dengan membaca. Sekarang kelihatannya lebih sedikit orang yang bisa menemukan keterhiburan dari membaca. Mereka lebih menyukai televisi daripada buku. Padahal menurut survei dari University of Maryland "People who spend the most time watching television are least happy in the long run"
http://www.nytimes.com/2008/11/20/health/research/20happy.html?_r=1


Televisi memang lebih menarik daripada buku karena menonton televisi tidak perlu mengimajinasikan apa yang ditonton. Lain halnya dengan buku. Saat membaca kita perlu mengimajinasikan apa yang kita baca agar kita bisa menikmatinya. 


Proses imajinasi inilah yang dilompati dalam proses perkembangan masyarakat Indonesia. Alhasil, banyak orang malas berpikir. Terima saja apa yang ditonton tanpa mau memeriksa lagi apakah yang ditonton itu benar, baik, berguna atau tidak. 


Cobalah tengok acara televisi yang ada di prime time (pk 18.00 - 23.00) tidak banyak yang membutuhkan imajinasi, kebanyakan acara pemancing tawa dan tangis bukan? Salah ya tidak. Namun, masyarakat yang malas berpikir akan membuat segala sesuatu dicari jalan pintasnya. Korupsi mungkin salah satunya. Pengerahan massa untuk berbuat anarkis salah lainnya. 


Wah, malah belok kemana-mana nih. Sederhana saja perhatikan anak-anak kecil. Banyak mana yang hobi main PS/DS/XBOX atau apalah namanya dibanding yang hobi membaca? Persentasenya menurut saya agak mengkhawatirkan. Di gang-gang sempit penyewaan PS lebih laku dibanding Taman Bacaan bukan? Apakah mereka akan cenderung malas berpikir dan cenderung mencari jalan pintas? Harus dibuktikan dengan waktu.


Nah, kemarin sebetulnya saya beli dua buku, satu untuk saya dan satu untuk anak saya (Seri Petualangan karya Enid Blyton). Saat menulis blog ini, dia sudah baca 1 bab saya belum lagi membacanya. Sudah saatnya berhenti di sini. Mudah-mudahan masih ada yang tergoda untuk membaca tulisan ini. 
http://www.newsdesk.umd.edu/sociss/release.cfm?ArticleID=1789 

2 comments:

Anonymous said...

Memang benar banyak anak-anak sekarang lebih tertarik main PS/DS daripada membaca. Salah satu alasan mengapa orang mulai malas membaca buku, mungkin karena harga buku-buku di Indonesia yang relatif mahal. Tapi kalau dipikirkan lebih jauh lagi, tetap saja lebih mahal PS/DS. Kalau mampu beli PS/DS, logikanya mampu beli buku. :-)
Kenikmatan baca buku secara fisik tetap saja beda dibanding buku online. Hanya saja karena arus jaman yang membawa orang-orang ke arah tersebut ,ditambah lagi karena banyak bacaan-bacaan online yang bisa diunduh gratis, sehingga orang mulai jarang beli buku.
Tapi, mungkin tidak semua lapisan masyarakat yang kena dampak tersebut. Masih ada beberapa orang yang setia membaca buku. Contohnya juga anak saya yang semenjak merasakan kenikmatan baca buku, tiap datang ke toko buku, tidak pernah absen dari beli buku. Kalau bukan karena keterbatasan kocek, mungkin lebih banyak lagi buku yang dibawa pulang. TV yang menyala sebenarnya juga jarang ditonton.
Apapun sumber bacaannya, baik buku secara fisik maupun online, paling tidak itu masih termasuk membaca. Semoga penulis juga tidak bosan, apalagi berhenti menulis. Karena masih ada orang di luar sana yang menantikan tulisan-tulisanmu, yang selain bisa menambah pengetahuan, bahkan bisa memberi kehangatan dan semangat hidup. So, please keep writing.
Maap kalau ada kata-kata yang kurang berkenan.

Unknown said...

Wah, senang sekali masih ada yang tergoda membaca tulisan saya. Semoga benar blog ini menjadi oasis bagi Anda. :-))