Monday, November 2, 2009

menggendong

kemarin pesta pernikahan adik iparku. pesta belum dimulai. kami keluarga sudah berdatangan dua jam sebelum pesta dimulai. anakku empat tahun usianya minggu lalu. berlarian sana sini padahal dia sedang batuk. sulit sekali melarang dia. tempat yang luas membuat dia merasa bebas. akhirnya aku biarkan saja dia.

pesta sudah dimulai. pengantin segera memasuki pelaminan. anakku duduk disebelahku. dia tidak selincah sebelumnya. enam tiga puluh waktu itu. aku tahu dia kelelahan setelah berlarian. segera aku menggendongnya. dan mulai mengayunkannya dipelukanku.

pengantin bersanding di pelaminan, anakku tertidur di pangkuan. dia bukan bayi lagi lima belas kilo beratnya. awalnya berat sekali aku menggendongnya. segera aku memindahkan kursi plastik putih yang kududuki ke tempat yang lebih strategis. di sudut antara tiang dan tembok. dan aku bersandar di sana sambil mendudukkan anakku di pangkuan.

pesta terus berlangsung. kakiku yang disilangkan untuk menopang anakku mulai kesemutan. kutukar kaki yang kusilangkan. jas kubuka kancingnya, dasi kulonggarkan. dia masih lelap dipangkuanku.

para undangan sudah mulai mendekati tempatku duduk karena posisiku di belakang stal makanan. aku masih santai saja duduk di sana menikmati saat itu. sebetulnya dia bisa kupindahkan ke mobil atau ke sofa di belakang. tapi aku ingin menikmati kebersamaan dengannya.

mungkin orang-orang berpikir aku bodoh duduk di kursi plastik yang keras sambil menggendong anak yang tertidur. tapi entahlah saat itu aku justru ingin merasakan dia di pangkuanku. pegal, kesemutan, berkeringat, dan lelah bercampur aduk. lebih dari semua aku ingin dia merasakan kasihku sebagai bapaknya. hembusan nafasnya, degup jantungnya, kehangatan tubuhnya. aku benar justru ingin merasakan kehadiran dia dalam hidupku di saat yang tidak nyaman seperti itu. satu jam aku menggendongnya dan aku akan mengingat saat itu sebagai saat yang penting dalam hidupku. dan aku tahu walaupun dia tertidur dia akan ingat kasih bapaknya yang menggendongnya.

1 comment:

Anonymous said...

Dalam situasi biasa menggendong memang sudah suatu ungkapan kasih dan sayang. Dan entah benar atau tidak, umumnya menggendong lebih dianggap pekerjaan seorang ibu. Bagi sebagian orang mungkin urusan menggendong anak, menenangkan anak, menidurkan anak , lebih cocok dikerjakan oleh seorang ibu. Mungkin karena pekerjaan itu butuh kelembutan seorang ibu.

Dalam suasana pesta yang seharusnya juga menuntut peran sang ayah di sini sebagai tuan rumah, justru kasih seorang ayah, ditengah lapar dan lelah mampu menidurkan membuat anak begitu lelapnya . Semua lapar dan lelah terbayar oleh hembusan nafasnya, degup jantungnya, kehangatan tubuhnya yang menyatu.
Hanya orang bodoh yang menganggap sang ayah adalah orang bodoh. Tidak semua ayah bisa seperti itu. Dan tidak semua anak seberuntung itu bisa merasakan kasih ayahnya yang tulus.